Translate

Senin, 21 Juni 2010

"Babaliak ka Dapua"

Hey, Srikandi'ers:
Sebelum aku memulai cerita ini, pikirkanlah..
Mungkin kau pikir ini sebuah wacana. Wacana kontradiktif terhadap Feminisme or semacamnya, tapi ketahuilah.. ini hanya media penyadaran bagi mereka yang telah terkotomi makna yang mereka sendiri tak mengerti hakikatnya.

Gals, terkadang kita memang merasa bahwa begitu banyak aturan-aturan yang mengikat, yang mengganggu, membelenggu hidup..
Tapi apa itu sesungguhnya??
Terkadang aturan itu dipaksakan sebagai pemaksaan. Sebagai keharusan.
Aturan PEMDA Minangkabau untuk pemakaian jilbab disetiap lini Dinas Pendidikan, misalnya. Mungkin kebanyakan orang berkomentar: Aturan yang kehilangan makna!! Membuat para wanita terkungkung dan terpaksa memakai jilbab, padahal mereka sendir belum siap..Bukankah Islam adalah agama yang kaffah? Memakai jilbab pun tak bisa dipaksa! Hatus dari kesadaran muslimah itu sendiri!!"

Ya..ya.,.. mungkin seperti itu..

Seperti halnya juga ketika banyak masyarakat yang menentang para perempuan untuk sekolah tinggi-tinggi.
Kata nenek saya nih: "Untuak aa sakola tinggi-tinggi, bisuak lah balaki karajo ka kadapua jo nyo!" (Untuk apa kamu sekolah tinggi-tinggi,, besok kalau sudah bersuami pasti akan ke dapur juga!)

Tentu saja Para feminis akan langsung angkat bicara mengenai hal ini.
pengekangan hak wanita, kolot, udik, ideologi primitif, dan sebagainya.
Tapi, coba kita berfikir sedikit rasional.

Memasak, yang memang sering dikatakan sebagai pekerjaan seorang perempuan memiliki urgensi dan makna tersendiri. Meski ada pameo, "seorang laki-laki akan menilai wanita dari kehebatan masakannya". Buktinya, banyak mertua yang menginginkan menantu nya pandai dalam hal yang satu ini.

Namun bagi mereka yang sudah terlanjur sinis dengan hal-hal yang berkaitan dengan pengungkungan dan merasa terpaksa bila melayani suami, tentu tak kan setuju kalau saya katakan, memasak=pembuktian eksistensi wanita, sIZTA!!

Kalau dipikir-pikir untung rugi nya, memasak itu menyelamatkan perut orang (*baca: suami:P)! Berapa pahala nya jika kita lakukan dengan ikhlas: memasak untuk orang rumah, mertua, anak, dsb.., tidak dengan merasa terpaksa dan direndahkan. Wacana sebenarnya adalah, kita semua terlalu menganggap semua yang berhubungan dengan dapur itu urusan/pekerjaan berskala rendah!!
So..

Untuk Srikandi'ers semua..
Jangan bohongi naluri mu!!
Kita hanya TERKUNGKUNG wacana yang beredar!! Bahwa perempuan itu rendah sekali jika harus "babaliak ka dapua"
Dapur itu adalah tempat yang menyenangkan!!

(NB..Tulisan ini dibuat dalam keadaan nggak mood, sebenarnya.. Ada kesalahan dan tidak sistematis?? Mohon dipahami..Thanks!:P)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar