Translate

Minggu, 19 Januari 2014

Linglung Kolektif

Setengah harian di pustaka, tulang serasa dicopot satu per satu …
Lelah kudrat!!! Pulang - pulang ba'da maghrib langsung makan. Tiba - tiba adek2 asrama ngetuk2 pintu. Mereka baru pulang dari kampus, habis Latihan Kepemimpinan. Melapor dengan wajah nelangsa. "teteh, ada anak baru yang nempatin kamar kami ya teh?

Tiba - tiba semuanya sudah rapi dan barang - barang kami entah dibawa kemana ga tahu." Tampang si adek sungguh memelas. Pastinya mereka ini capek juga secapek saya menghadapi hari ini. "loh kok bisa????" saya bingung karena biasanya kalau ada anak baru masuk atau pindah kamar, mestinya melapor (kamar yang dimaksud kamar No. 1, diujung dekat tangga) "iya the .. Handphone pada ilang semua … " tampang mereka benar2 kusut dan bikin iba! Saya dan Lidya menduga - duga, "apa anak Malaysia yang udah datang?" "atau ada yang sudah mindahin barang ke lantai atas??" "ya sudah! Mari kita cek!" ...rupanya …….. "teteh..

Maaf teh … kami salah kamar! (rupanya mereka salah arah. kamar yang tadinya dituju adalah kamar 24 di lorong Arah Barat, mestinya mereka menuju lorong arah Timur)"

Yang kami ga habis pikir, mereka 'kan ada berempat, kok bisa sama2 ga nyadar ya??? Ada lagi yang kelewat turun tangga. Maunya ke lantai dua malah nyampe ke lantai dasar.

Pas disapa "eh de, mau kemana?" dianya diam, tetap menuruni tangga dengan khusyu' baru setelah itu cengengas cengenges naik tangga lagi.

Entah ngelamun apa tadi :D

Wkwkwkk.. At least We loud of laugh this night after working hard today. Ada - ada saja cara Allah menghibur kita!

Selasa, 24 Desember 2013

Senin, 21 Juni 2010

"Babaliak ka Dapua"

Hey, Srikandi'ers:
Sebelum aku memulai cerita ini, pikirkanlah..
Mungkin kau pikir ini sebuah wacana. Wacana kontradiktif terhadap Feminisme or semacamnya, tapi ketahuilah.. ini hanya media penyadaran bagi mereka yang telah terkotomi makna yang mereka sendiri tak mengerti hakikatnya.

Gals, terkadang kita memang merasa bahwa begitu banyak aturan-aturan yang mengikat, yang mengganggu, membelenggu hidup..
Tapi apa itu sesungguhnya??
Terkadang aturan itu dipaksakan sebagai pemaksaan. Sebagai keharusan.
Aturan PEMDA Minangkabau untuk pemakaian jilbab disetiap lini Dinas Pendidikan, misalnya. Mungkin kebanyakan orang berkomentar: Aturan yang kehilangan makna!! Membuat para wanita terkungkung dan terpaksa memakai jilbab, padahal mereka sendir belum siap..Bukankah Islam adalah agama yang kaffah? Memakai jilbab pun tak bisa dipaksa! Hatus dari kesadaran muslimah itu sendiri!!"

Ya..ya.,.. mungkin seperti itu..

Seperti halnya juga ketika banyak masyarakat yang menentang para perempuan untuk sekolah tinggi-tinggi.
Kata nenek saya nih: "Untuak aa sakola tinggi-tinggi, bisuak lah balaki karajo ka kadapua jo nyo!" (Untuk apa kamu sekolah tinggi-tinggi,, besok kalau sudah bersuami pasti akan ke dapur juga!)

Tentu saja Para feminis akan langsung angkat bicara mengenai hal ini.
pengekangan hak wanita, kolot, udik, ideologi primitif, dan sebagainya.
Tapi, coba kita berfikir sedikit rasional.

Memasak, yang memang sering dikatakan sebagai pekerjaan seorang perempuan memiliki urgensi dan makna tersendiri. Meski ada pameo, "seorang laki-laki akan menilai wanita dari kehebatan masakannya". Buktinya, banyak mertua yang menginginkan menantu nya pandai dalam hal yang satu ini.

Namun bagi mereka yang sudah terlanjur sinis dengan hal-hal yang berkaitan dengan pengungkungan dan merasa terpaksa bila melayani suami, tentu tak kan setuju kalau saya katakan, memasak=pembuktian eksistensi wanita, sIZTA!!

Kalau dipikir-pikir untung rugi nya, memasak itu menyelamatkan perut orang (*baca: suami:P)! Berapa pahala nya jika kita lakukan dengan ikhlas: memasak untuk orang rumah, mertua, anak, dsb.., tidak dengan merasa terpaksa dan direndahkan. Wacana sebenarnya adalah, kita semua terlalu menganggap semua yang berhubungan dengan dapur itu urusan/pekerjaan berskala rendah!!
So..

Untuk Srikandi'ers semua..
Jangan bohongi naluri mu!!
Kita hanya TERKUNGKUNG wacana yang beredar!! Bahwa perempuan itu rendah sekali jika harus "babaliak ka dapua"
Dapur itu adalah tempat yang menyenangkan!!

(NB..Tulisan ini dibuat dalam keadaan nggak mood, sebenarnya.. Ada kesalahan dan tidak sistematis?? Mohon dipahami..Thanks!:P)

"Tipologi Pacaran"

Assalamu’alaikum..
Ngomong-ngomong soal pacaran, pacaran tu istilah darimana ya..?? Yunani?? Mesir?? Jawa, Padang, Batak, Makasar??? Tahun berapa terbitnya? Wah, nggak tau juga tuh….
Dengan cara jitu ngerombak asal-asalan sebuah artikel dari dosen favorit saya nih.. saya coba mengungkapkan suatu rahasia kebenaran tentang tipologi pacaran.
Pertama, pacaran sewaktu-waktu (convenience relationship). Ia adalah pacar tanpa alasan yang khas: tetangga sebelah rumah, kenalan di tempat pemandian mobil, teman dari teman paling akrabmu, atau om-om ketika dirimu menikmati juice dan kue-kue setiap minggu di taman bermain anak-anak. Pacar sewaktu-waktu semata-mata terkait dengan waktu. Ia meminjam duit mu pas dirimu lagi bokek bokek nya nih; membawa adek mu menonton sepak bola dengan mobilnya ketika dirimu sakit; jadi sopir mu ketika dirimu mo jemput mobil di bengkel, atau merawat kucing kesayangan mu ketika dirimu pergi liburan. Sebagaimana dirimu pun melakukan hal yang sama untuknya. Tetapi, kamu tidak pernah terlalu dekat atau bercerita terlalu banyak padanya. Kamu tuh tetap mempertahankan wajah publik dan jarak emosional dirimu darinya. Kamu hanya menuturkan kelebihan berat badan, tapi bukan karena didera depresi; kamu bercerita padanya kalo dirimu marah, tapi bukan karena meradang murka; kamu mengungkapkan terjepit uang bulan ini, tapi bukan karena mengalami krisis keuangan dewasa ini. Bisa jadi ni pacar kamu ‘peroleh’ pas kamu baru siap putus ma mantan. Nah, pas mantan niat mo balik lagi (ngeliat ternyata dirimu masih laku juga), ni pacar….. kelaut atuh!
Kedua, pacaran untuk kepentingan khusus (special-interest relationship). Macam pacaran ini tidak dekat dan tidak perlu melibatkan adek-adek, sopir, or binatang piaraan. Nilainya terletak pada adanya kepentingan yang sama; biasanya nih, dirimu dapat ni pacar di skul or kuliahan, se-klub latihan karate, pas main tennis, atau pas sama-sama dalam kepanitian satu acara di organisasi. Perkaranya, apa yang menjadi landasan pacaran disini cuma bekerja bersama (doing together), bukan menjadi bersama (being together). Misalnya kamu tu susah banget kalo udah ngerjain tugas statistika. Tiap ulangan nilai pasti ancur. Setinggi-tinggi dan seberuntung-beruntungnya palingan dapat C-. Yawdah, kamu tinggal cari aja pacar anak Kedokteran. Pas nilai dirimu dah jaya-jayanya, dan kamu mulai tertarik dengan bisnis internet, tinggal nyari pacar baru yang anak IT.
Ketiga, pacaran karena sejarah (historical relationship). Ini nih yang dinamakan CLBK alias coretan lama bersemi kembali. Bisa jadi, ni pacar asalnya teman SD kamu yang dulunya sering kamu ejek gara-gara tiap hari Jum’at pipis di celana (Tanya kenapa?), or, teman SMP kamu yang dulunya gendut tapi sekarang dah ramping. Although teman SMA yang hobi banget narik rambut kamu kebelakang dan sekarang dah tobat jadi alim ‘n charming (hueek!! Apa iya ada orang alim mau diajak pacaran..??)
Keempat, pacar persimpangan jalan (crossroad relationship). Mungkin ia adalah teman satu ruangan pas kuliah umum; or cowok lugu pas nungguin angkot di terminal ataupun bus di halte. Biasanya ini cuma cinta lokasi yang sesaat dan mudah banget ilangnya pas kamu ‘n dia dah berjauhan.
Kelima, pacar lintas generasi (cross-generational relationship). Ini ni pacar yang tergaet gara-gara bapak-om-nya-adek-nenek-tiri-kenalan-tantenya kenalan ibumu..(khuhuhu)!. Yang jelas, pacaran seperti ini biasanya direstuin sama ortu soalnya akrab dengan keluarga besarmu gara-gara si Doi rajin kerumahmu (apalagi kalo bawa hadiah ‘n makanan), bahkan ni pacar tau hari ultah ibumu, nomor sepatu bapakmu, es krim kesukaan adekmu, etc. Kamu pun gitu, akrab dengan keluarganya dah serasa keluarga sendiri. Tapi, pacaran jenis ini juga biasanya paling gawat. Bisa-bisa pas putus semua anggota keluarganya ngelemparin dirimu dengan kulit pisang dan nyiramin air se tronton!(lebay^^)
Keenam, pacaran tingkat tinggi (high class relationship or best relationship). Pacar terbaik ini sih katanya saling mencintai, menyokong, dan mempercayai secara total. Dengan pacar terbaik, kita mengungkapkan rahasia hati masing-masing, memberikan pertolongan tanpa diminta, dan mengisahkan setiap kebenaran walaupun pahit dan menyakitkan. Tapi, Brur! Yang namanya hidup di dunia, nggak ada yang kekal. Tetap saja apa yang kita perbuat tak lepas dari pengawasan Allah SWT. Secinta-cinta mati apa pun, kalo nggak jodoh ya nggak bakal nemu juga! Emangnya mentang-mentang rasanya dah cocok, bisa aja langsung jodoh nantinya gitu..?? Ya enggaklah. Tetap aja Allah yang Maha Merancang yang akan memberikan apa yang kita BUTUHKAN, bukan apa yang kita INGINKAN.
BTW…
Bagaimana dengan pacaran Islami Neng..??
Huwakkkzz!!! Pacaran Islami??? emang ada??!!! (ada dong, Neng.. yang kemana-mana bawa Qur’an gitchu, pacaran nya palingan cuma rihlah ke taplau sekedar tafakur alam, cuma diskusi bagaimana realita islam masa kini, cuma saying I love U aja tanpa pegang-pegang, nggak macam-macam, klo ketemu palingan ya nunduk-nunduk, bahasanya pake bahasa kalbu, blah blah blah….bebas maksiat deh pokoknye!).. Polos niaaaaaaaaaaaan…. Dikait-kaitkan pula dengan istilah islami!!
Khuhuhu…..lucu. . .lucu. . .
Hati manusia siapa yang tau..?? pas ketemu ya gitu.. Tapi siapa yang nebak apa yang doi khayalkan..?? Lagian, meski keliatannya saleh, lugu, ataupun culun siapa yang bisa menjamin suatu saat dia nggak bakalan nyakitin? Toh, apa dia bakal masih idup semenit lagi aja nggak ada yang bisa menjamin. Naas banget kan, pas kamu dah cinta mati-matinya, rupanya Allah nggak ridha, tu pacar langsung diambil!!
Sudahlah.. kesimpulannya, yang ada di Islam tu cuma relationship after married, kaWwaaaanD!!!…. (tu baru tepat dan akurat). Wa ‘l-Lâh-u a‘lam-u bi ‘l-shawâb.

(terinspirasi abiss dari tugas review “Tipologi Pertemanan by Pak Donny Syofyan” yang memaksa daku ngenet malam-malam gara-gara salah informasi dan jalan Silaing longsor sehingga semua bus2 jurusan Padang-Bukittinggi harus lewat Sitinjau. (nggak usah pusing dan pake nanya: ap hubunganx?). Baru sempat posting sekarang soalnya lupa tarok di flasdisk yang mana..>.<)

Ada Apa Denganmu, Wahai Pejantan Tangguh??

Ada kekaguman tersendiri ketika diriku melihat para Adam yang memakai tas ransel yang beratnya mungkin saja melebihi berat badannya. Tak hanya itu, dikiri kanan mereka pun ada jinjingan yang menonjol karena saking banyaknya muatan didalamnya. Wajah mereka menggambarkan harapan dan semangat membara untuk menghadapi pengembaraan. Aku pun terpana melihat kesungguhan mereka membawa beban. Bahkan saking semangatnya mereka tidak lagi memperhatikan penampilan. Celana yang asal-asalan, baju yang tak kena setrikaan. Seolah-olah mereka memiliki persiapan penuh untuk ekspedisi yang notebene nya memang bersentuhan dengan alam rimba dan semak belukar plus lumpur serta rawa yang ganas.

Terpesona ku melihat mereka, ada keingintahuan yang besar dan hasrat untuk ikut dengan mereka atau setidaknya bisa bercerita sejenak tentang pengalaman-pengalaman yang begitu menakjubkan. Kemanakah mereka akan pergi? Lautan mana yang akan mereka sebrangi? Lembah mana yang akan mereka turuni? Gunung mana yang akan mereka daki?? Merapi-kah dengan batunya yang tajam? Atau Singgalang dengan keindahan Telaga Dewi nya? Atau Talang-kah dengan kemisteriusannya? Atau Mount Everest kah?? (*my great mission:p)

Sejujurnya aku bangga pada mereka. Bagiku mereka ibarat pahlawan. Yang mampu menancapkan bendera di puncak tertinggi dimana tidak ada lagi puncak yang lebih tinggi dari itu.

Aku kagum dan kagum melihat keperkasaan mereka. Luka-luka yang menusuk tak sedikitpun menghentikan keteguhan mereka. Dana siap mereka kucurkan, walaupun mungkin untuk makan besok pagi tak secuilpun mereka pikirkan. Tatapan sinis mata manusia mereka tahan dengan segenap jiwa. Aroma yang menusuk mereka acuhkan, demi satu misi, satu tujuan. Dengan motto, “Gunung yang tinggi pun kan kudaki, Laut yang luas kan kuseberangi, apa pun akan ku korbankan, uang, harga diri, demi tujuan masa depan yang gemilang.” (*emang sedikit lebay*^^,)

***

Aku masih terpaku di tempat dudukku menatap salah satu diantara mereka, terharu. Ada gejolak dalam hati yang tak bisa kutebak. Kagumkah atau ibakah?? Suatu perasaan sendu menyeruak karena aku tak bisa ikut bersama mereka. Tapi, tak apalah. Aku bahagia karena sebentar lagi mungkin aku akan mendapatkan jawabannya.

Pelan-pelan… dia, yang kelihatan paling kekar dari semua, berjalan kearahku. Hmm..mungkin ingin memperoleh sarana transportasi ke tempat tujuan mereka. Sepertinya mereka memang belum punya kendaraan sendiri. Dia _yang paling perkasa tadi_ mendekat…. dan semakin mendekat kearahku. Dengan penuh pertimbangan dia menyeberang. Aku jadi deg-deg an. Hatiku mengerenyut. Perutku jungkir balik. Beberapa langkah lagi dia akan mencapaiku. Aku akan melihat sang pengembara itu dari dekat! Pejantan tangguh yang begitu misterius bagiku dan tak tersentuh. Ku berusaha menghentikan kegugupan. Dengan jantung yang berdebar-debar di dada, aku berusaha memberikan senyuman termanisku.

Tiba-tiba…

Dia membelok dan menurunkan barang bawaanya. Semuanya dia turunkan tanpa kecuali. Peluh telah menjajah dahinya. Kelihatannya dia memang lelah sekali. Akhirnya satu persatu barang bawaan ditaruhnya di lantai.

Hey! Ada apa gerangan?

Apa yang terjadi??

Kenapa dia menyerah dihadapanku?

Dimana keteguhannya, keperkasaanya, semangatnya, yang tadi tersirat diwajahnya?

Apa yang membuatnya lemah sampai-sampai terduduk di lantai dan menyandar kedinding?

Mata ku lekat menatapnya tak berkedip.

Putus asa kah dia?

Akhirnya dengan lemas dia pun mengeluarkan isi tas punggung itu. Oh, No!! Apakah yang akan dia lakukan?? Tak cukup atau berlebihkah bekal yang ia butuhkan??

Atau… mungkin ada sesuatu yang dia cari. Atau ada yang ketinggalan.

Menit demi menit berlalu, semua barangnya tercurah ke lantai. Sweater, celana, baju, bahkan selimut pun ikut teronggok di lantai. Tapi..barang yang ia cari seolah tak ia temukan. Karena tak ada lagi yang tersisa di dalam tas nya. Dan, kulihat wajahnya semakin sedih dan letih ketika ada yang membantu mengangkat pakaiannya yang berserak itu. Pelan-pelan…. Ia rogoh sakunya. Aku semakin heran. Apa yang hilang??? Kenapa wajahnya begitu harap dan cemas???

Aku berusaha mendekat, mencari tahu.

Dan aku pun ternganga.

Astaghfirullah…

Allahu Akbar!!!

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Mulutku tak terkatup melihat angka-angka 80 kg bersemayam di wajah timbangan. Sanggupkah ia membayar?? Beberapa lembar ribuan untuk tumpukan kain yang sudah agak asing baunya.

Lama, baru ku tersadar. Kucoba melihat palang yang tertancap di pinggir jalan. Tepat disampingku. Mulutku berusaha mengeja:

TERIMA KAIN KILOAN

VAMELANIA LAUNDRY

(^_^)

(Thanks to para pejantan tangguh yang menjelaskan padaku makna lain dari tas ransel....*ya ‘kan, kak Bend? Ladies..agaknya kita memang HARUS mengajari MEREKA untuk jadi PEJANTAN TANGGUH!^^*)

Sabtu, 28 Maret 2009

About Buku Terbaru Harry Potter

Hai semua fans HarPot!Mo tau nggak, perkembangan buku terbarunya"The Deathly Hollow"?OK,kebetulan aQ ada sinopsisnya neeeh.Bagi yang udah siap membaca,jangan lupa ninggalin Comment yah...
Meninggalkan rumah Dursley
Harry Potter memasuki umur 17 tahun di mana ia mencapai umur kedewasaan secara dunia sihir. Sebelum berumur 17 tahun, Harry masih terlindung dari Voldemort selama ia tinggal di rumah keluarga Dursley yang memiliki pertalian darah dengannya. Dengan memasuki umur kedewasaannya, mantera itu akan terangkat dengan sendirinya dan mengharuskan Harry untuk melindungi dirinya sendiri.
Atas informasi dari Severus Snape, Lord Voldemort dan para pengikutnya mengetahui informasi mengenai akan terangkatnya mantera perlindungan ini dan berencana untuk menyergap Harry ketika ia akan meninggalkan rumah keluarga Dursley. Voldemort juga sedang mencari tongkat sihir baru yang dapat mengatasi tongkat sihir Harry. Sesaat sebelum mantera perlindungan Harry berakhir, keluarga Dursley diamankan ke tempat yang dirahasiakan, dan beberapa anggota Orde Phoenix tiba untuk mengawal Harry ke tempat yang aman. Enam orang menyamar sebagai Harry, tapi Harry yang asli ketahuan dalam perjalanan dan diserang oleh Voldemort dan para Pelahap Mautnya. Harry berhasil melarikan diri ke rumah keluarga Weasley, the Burrow, tapi Hedwig dan Mad-Eye Moody terbunuh dalam pertempuran.
Beberapa hari kemudian, Menteri Sihir Rufus Scrimgeour tiba di kediaman Weasley dan memberikan warisan Dumbledore untuk mereka: Deluminator untuk Ron (alat seperti korek api yang dapat memadamkan/menyalakan cahaya); buku mengenai kisah anak-anak sihir untuk Hermione; dan untuk Harry, pedang Godric Gryffindor dan Snitch pertama yang ditangkap Harry dalam pertandingan Quidditch pertamanya. Namun demikian, pedang Gryffindor ditahan oleh Menteri Sihir, karena kementerian berpendapat bahwa pedang tersebut bukanlah milik Dumbledore. Belakangan, dari Snitch itu muncul sebuah petunjuk yang ditulis oleh Dumbledore: "Aku membuka pada penutup" (bahasa Inggris: "I open at the close"). Walaupun ketiganya belum dapat mengetahui mengapa Dumbledore meninggalkan masing-masing mereka benda-benda tersebut, mereka mempercayai bahwa benda-benda itu dimaksudkan entah bagaimana untuk membantu mereka menemukan horcrux-horcrux Voldemort.Pencarian Horcrux
Dalam resepsi pernikahan Bill Weasley dan Fleur Delacour, Patronus dari Kingsley Shacklebolt muncul dengan peringatan bahwa Kementerian Sihir telah jatuh dan para Pelahap Maut sedang mendatangi mereka. Harry, Ron, dan Hermione melarikan diri dengan berdisapparate, dan akhirnya berlindung di markas besar Orde Phoenix yang telah ditinggalkan di Grimmauld Place nomor dua belas, rumah yang diwarisi Harry dari Sirius Black. Di rumah ini, Harry mendapati bahwa ternyata adik Sirius, Regulus yang tewas oleh Voldemort, memiliki nama Regulus Arcturus Black yang berinisial sama dengan "R.A.B." yakni orang yang mengambil Horcrux liontin Salazar Slytherin dari gua pinggir laut yang tersembunyi.[HP6] Hermione teringat pernah melihat sebuah liontin di antara barang-barang milik Kreacher, peri rumah di tempat itu. Kreacher merujuk Mundungus Fletcher yang mengakui telah mencuri liontin itu dari si peri rumah dan menggunakannya untuk menyogok Dolores Umbridge. Yakin bahwa liontin itu salah satu Horcrux yang sedang mereka cari, ketiganya memasuki Kementerian Sihir menggunakan samaran Ramuan Polijus. Mereka berhasil mengambil liontin itu dari leher Umbridge tanpa disadarinya, tapi tempat persembunyian mereka di Grimmauld Place berhasil diketahui musuh.
Ketiga sahabat itu melarikan diri. Mereka tidak berhasil membuka apalagi menghancurkan liontin itu, dan bergantian memakai liontin itu untuk menjaganya. Mereka juga berhasil mengetahui bahwa pedang "warisan Dumbledore" yang ditahan oleh kementerian sebenarnya adalah pedang tiruan; dan bahwa pedang Gryffindor yang aslilah yang dapat menghancurkan Horcrux-Horcrux itu. Harry hendak mencari pedang itu, tapi Ron, yang khawatir akan keamanan keluarga dan kecewa karena ternyata Harry tidak memiliki rencana apa pun dari Dumbledore, meninggalkan Harry dan Hermione. Keduanya kemudian pergi ke Godric's Hollow untuk mencari pedang itu. Di sana, mereka disergap oleh Voldemort dan Nagini. Ketika mereka berhasil melarikan diri, Hermione tanpa sengaja mematahkan tongkat sihir Harry.
Di Hutan Dean, Harry melihat sebuah Patronus berbentuk Rusa betina di dekat tempat mereka berkemah. Patronus itu membawanya ke sebuah kolam es berisikan pedang Gryffindor. Ketika Harry berusaha untuk menyelam ke dalam kolam es untuk mengambil pedang tersebut, Horcrux liontin yang dikenakannya tiba-tiba mengetat dan berusaha mencekik lehernya. Ron, yang menggunakan Deluminator untuk mencari Harry dan Hermione, tiba dan berhasil menyelamatkan Harry dari tenggelam di kolam itu, mengambil pedang, dan kemudian berhasil menghancurkan liontin itu. Ron memperingatkan Harry dan Hermione bahwa nama Voldemort sekarang telah menjadi dimanterai Tabu - sehingga orang yang berani menyebut nama itu akan menyebabkan tempatnya bersembunyi akan tersingkapRelikui Kematian

Simbol Relikui Kematian (the Deathly Halows)

Ketiga sahabat pergi mengunjungi Xenophilius Lovegood, ayah Luna, untuk menanyakan mengenai simbol yang pernah mereka lihat digunakan oleh Xenophilius dan simbol yang sama dengan simbol yang ada di buku anak-anak milik Hermione. Lovegood menyatakan bahwa simbol itu adalah simbol dari Relikui Kematian (the Deathly Hallows), tiga benda legendaris yang dapat menaklukkan kematian: Tongkat sihir Elder (Elder Wand), Batu Kebangkitan (Resurrection Stone), dan Jubah Gaib. Ketika ditekan mengenai keberadaan Luna, Lovegood mengakui bahwa para Pelahap Maut telah menculik putrinya; dan bahwa ia juga telah memberitahu Kementerian Sihir (yang telah dikontrol oleh para Pelahap Maut) mengenai keberadaan ketiganya; namun mereka berhasil melarikan diri.
Beberapa pemburu harta karun menangkap ketiganya di perkemahan mereka setelah Harry secara ceroboh menyebut nama Voldemort. Mereka dipenjarakan di rumah keluarga Malfoy, bersama-sama dengan Luna Lovegood, Dean Thomas, Ollivander si pembuat tongkat sihir, dan goblin Griphook. Ketika menemukan pedang Gryffindor di antara milik mereka, Bellatrix Lestrange mencurigai bahwa mereka telah mencuri masuk ke tempat penyimpanan miliknya di Bank Gringott. Bellatrix menyiksa Hermione untuk mendapatkan informasi. Dobby berapparate ke penjara bawah tanah tempat mereka semua disekap dan menyelamatkan mereka. Petter Pettigrew turun ke bawah tanah untuk menyelidiki kegaduhan dan mencekik Harry, yang mengingatkan bahwa Pettigrew berhutang nyawa kepadanya.[HP3] Cengkeraman Pettigrew melemah, tangan peraknya terlepas dan mencekik tuannya sendiri sampai mati sebagai balasan hutang nyawa itu. Harry dan Ron berlarian menaiki tangga untuk menyelamatkan Hermione. Ron melucuti Bellatrix sementara Harry mengalahkan dan mengambil tongkat sihir Draco. Dobby muncul kembali dan mereka berempat berapparate ke rumah Bill dan Fleur Weasley. Sesaat sebelum mereka menghilang, Bellatrix melemparkan pisau dan secara fatal menembus tubuh Dobby.
Di kediaman Bill, Ollivander membenarkan akan keberadaan Tongkat Elder itu. Ia juga mengungkapkan bahwa sebuah tongkat sihir dapat memilih untuk berganti ke tuan yang baru jika pemiliknya dikalahkan atau dilucuti. Tindakan Bellatrix meyakinkan ketiga sahabat itu bahwa ada Horcrux lain yang disembunyikan di lemari besi Lestrange. Dengan bantuan Griphook, mereka memasuki Gringotts dan berhasil mengambil Horcrux yang lainnya, Piala Helga Hufflepuff. Griphook mencuri pedang Gryffindor, karena menganggap bahwa pedang itu sesungguhnya adalah milik kaum Goblin, dan ketiga sahabat berhasil melarikan Horcrux Piala itu. Dengan kejadian ini, Voldemort, yang berhasil mencuri Tongkat Elder dari makam Dumbledore, menyadari sepenuhnya bahwa Harry Potter dan sahabat-sahabatnya sedang mencari dan menghancurkan Horcrux-Horcruxnya. Secara tidak sengaja, pikiran Harry terhubung dengan pikiran Voldemort yang mengungkapkan bahwa ada satu lagi Horcrux yang disembunyikan di Hogwarts. Harry segera menyadari bahwa Horcrux di Hogwarts ini adalah Mahkota Rowena Ravenclaw.
Pertempuran Hogwarts

Di Hogsmeade, Aberforth Dumbledore membantu Harry, Ron, dan Hermione untuk menyelinap masuk ke Hogwarts. Harry memperingatkan para staf pengajar Hogwarts bahwa Voldemort akan segera datang menyerbu. Orde Phoenix, Laskar Dombledore, para pelajar, dan banyak alumni Hogwarts tiba di sana ketika para pengikut Voldemort tiba menyerang. Pertempuran ini memakan banyak korban, di antaranya adalah Fred Weasley, Remus Lupin, Nymphadora Tonks, dan Colin Creevey. Sementara Harry mencari Horcrux Mahkota itu, Ron dan Hermione memasuki Kamar Rahasia untuk mengambil taring ular Basilisk yang dahulu dibunuh oleh Harry.[HP2] Hermione menggunakan taring itu untuk menghancurkan Horcrux Piala Hufflepuff. Dalam pencarian itu, Harry kemudian teringat bahwa ia pernah melihat Mahkota itu di Kamar Kebutuhan. Di kamar itu, ketiganya diserang oleh Malfoy, Crabbe, dan Goyle. Crabbe mempergunakan mantera Fiendfyre yang sangat kuat yang malah membunuh dirinya sendiri tapi juga menghancurkan mahkota itu.
Pikiran Harry terhubung dengan pikiran Voldemort kembali, dan ketiganya segera pergi ke Shrieking Shack. Mereka mendengar Voldemort memberitahu Snape bahwa Tongkat Elder tidak dapat digunakannya dengan baik dikarenakan Snape telah menjadi tuan atas Tongkat itu setelah Snape membunuh pemilik Tongkat itu sebelumnya, Albus Dumbledore.[HP6] Voldemort yakin bahwa dengan membunuh Snape maka Tongkat itu akan menjadi miliknya seutuhnya. Ia menyuruh Nagini untuk membunuh Snape, kemudian pergi ke Hogwarts. Ketika Snape sedang jatuh sekarat, ia memberikan Harry memorinya. Memori ini kemudian mengungkapkan bahwa Snape, sekalipun tidak sepenuhnya baik, adalah orang yang setia kepada Dumbledore, didorong oleh cinta seumur hidupnya kepada ibu Harry, Lily Potter. Dumbledore, yang hidupnya sudah tidak lama lagi akibat kutukan yang mengenainya dari Horcrux Cincin Gaunt, telah menyuruh Snape untuk membunuh Dumbledore bila perlu, untuk melindungi peranan Snape dalam Orde Phoenix dan juga untuk menggantikan Draco Malfoy yang ditugasi Voldemort untuk membunuh kepala sekolahnya. Adalah Snape juga yang mengirimkan Patronus Rusa betina yang mengantar Harry ke pedang Gryffindor. Memori itu juga mengungkapkan bahwa Harry sendiri adalah Horcrux — Voldemort tidak akan dapat dibunuh selama Harry masih hidup.
Pasrah akan nasibnya, Harry pergi seorang diri ke Hutan Terlarang di mana Voldemort telah menunggu. Dalam perjalan itu, Harry menemukan petunjuk dari Snitch, yang membuka dan di dalamnya terdapat Batu Kebangkitan. Harry memanggil arwah dari orang tuanya, Sirius Black dan Remus Lupin, yang menenangkan dan menemaninya ke tempat Voldemort. Ia kemudian membiarkan kutukan Voldemort, Avada Kedavra, mengenai dirinya. Harry terbangun di suatu tempat seperti di dunia lain dan tidak yakin apakah ia masih hidup atau sudah mati. Albus Dumbledore muncul dan menjelaskan bahwa bagian jiwa Voldemort yang berada di dalam diri Harry telah dihancurkan oleh kutukan pembunuh itu. Ia menjelaskan juga bahwa seperti Voldemort tidak dapat dibunuh sementara bagian jiwanya masih tersisa, maka Harry juga tidak dapat dibunuh sementara darahnya masih mengalir di tubuh Voldemort. Harry, yang berhasil "mengalahkan maut" dengan menyatukan ketiga Relikui Kematian, mendapat pilihan untuk "meninggalkan dunia" atau kembali hidup di dunia.
Harry hidup kembali, tapi ia berpura-pura telah tewas. Voldemort menyuruh untuk membawa Harry ke Hogwarts sebagai tanda kemenangan. Ketika pertempuran memanas kembali, Harry memakaikan dirinya sendiri Jubah Gaib. Neville menarik pedang Gryffindor dari Topi Seleksi dan berhasil memenggal kepala Nagini, menghancurkan Horcrux terakhir. Penduduk desa Hogsmeade, para Centaurus dari hutan, dan para peri rumah Hogwarts ikut masuk dalam pertempuran melawan para Pelahap Maut, yang mulai berbalik kalah unggul dalam jumlah. Di dalam puri, McGonagall, Kingsley, dan Slughorn berduel melawan Voldemort; sementara Ginny, Hermione, dan Luna melawan Bellatrix Lestrange. Ketika sebuah kutukan pembunuh hampir mengenai Ginny, Molly Weasley terjun ke pertempuran, mendorong para gadis menjauh, dan dengan sengit bertempur dengan Bellatrix. Ia berhasil membunuh Bellatrix dengan manteranya. Harry menampakkan dirinya kembali dan menantang Voldemort. Harry berhasil menyimpulkan bahwa Voldemort bukanlah pemilik sejati dari Tongkat Elder. Ketika Draco Malfoy melucuti Dumbledore di Menara Astronomi, Draco tanpa sadar telah menjadi pemilik Tongkat Elder; dan ketika Harry belakangan merebut tongkat Draco, ia sendiri menjadi pemilik baru yang sejati dari Tongkat Elder. Voldemort melemparkan Kutukan Pembunuh kepada Harry yang dilawan Harry dengan Mantera Pelucutan Senjata; namun Tongkat Elder melindungi tuannya sehingga kutukan Voldemort memantul dan berbalik membunuh Voldemort sendiri.
Setelah pertempuran berakhir, Harry mendatangi lukisan Dumbledore. Ia memberitahu bahwa ia akan menyimpan Jubah Gaib itu, tapi untuk mencegah ketiga Relikui Kematian itu bersatu kembali, Batu Kebangkitan akan dibiarkan di tempat ia terjatuh di Hutan Terlarang, dan Tongkat Elder akan dikembalikan ke makam Dumbledore. Jika Harry kelak meninggal tanpa terkalahkan, maka kekuatan Tongkat Elder akan padam seiring dengan kematiannya. Lukisan Dumbledore menganggukkan persetujuannya. Sebelum menempatkan Tongkat Elder kembali ke makam itu, Harry mempergunakannya untuk memperbaiki tongkat sihirnya sendiri yang telah patah.
Epilog

Sembilan belas tahun kemudian, Harry telah menikah dengan Ginny Weasley, dan mereka memiliki tiga anak bernama James, Albus Severus, dan Lily. Ron dan Hermione juga menikah dan memiliki dua anak, Rose dan Hugo. Keluarga-keluarga itu bertemu di Stasiun King's Cross, di mana Albus akan memasuki tahun pertamanya bersekolah di Hogwarts. James, anak pertama mereka, sudah bersekolah di Hogwarts, sementara Lily baru akan masuk ke Hogwarts dua tahun kemudian.
Anak baptis Harry yang berumur sembilan belas tahun, Teddy Lupin, ditemukan berciuman dengan Victoire Weasley (putri Bill dan Fleur) di salah satu kompartemen kereta. Teddy tampaknya sangat dekat dengan keluarga Potter, dengan perkataan Harry, "Ia sudah datang untuk makan malam bersama empat kali seminggu."
Harry juga melihat Draco Malfoy dan istrinya bersama putra mereka, Scorpius. Malfoy menganggukkan kepala singkat ke Harry, kemudian pergi.
Harry menenangkan Albus, yang khawatir akan masuk ke Slytherin. Ia memberitahu bahwa Severus Snape, dari mana nama Severus diambil, adalah seorang Slytherin dan ia adalah orang yang paling berani yang pernah ditemuinya. Harry juga membocorkan bahwa Topi Seleksi akan mengikuti pilihan seseorang.
Neville Longbottom telah menjadi guru Herbologi dan berteman baik dengan Harry.
Buku ini diakhiri dengan pengungkapan bahwa bekas luka Harry tidak pernah sakit lagi selama sembilan belas tahun sejak Pangeran Kegelapan dikalahkan, dan semuanya berjalan dengan baik.