Translate

Senin, 21 Juni 2010

Ada Apa Denganmu, Wahai Pejantan Tangguh??

Ada kekaguman tersendiri ketika diriku melihat para Adam yang memakai tas ransel yang beratnya mungkin saja melebihi berat badannya. Tak hanya itu, dikiri kanan mereka pun ada jinjingan yang menonjol karena saking banyaknya muatan didalamnya. Wajah mereka menggambarkan harapan dan semangat membara untuk menghadapi pengembaraan. Aku pun terpana melihat kesungguhan mereka membawa beban. Bahkan saking semangatnya mereka tidak lagi memperhatikan penampilan. Celana yang asal-asalan, baju yang tak kena setrikaan. Seolah-olah mereka memiliki persiapan penuh untuk ekspedisi yang notebene nya memang bersentuhan dengan alam rimba dan semak belukar plus lumpur serta rawa yang ganas.

Terpesona ku melihat mereka, ada keingintahuan yang besar dan hasrat untuk ikut dengan mereka atau setidaknya bisa bercerita sejenak tentang pengalaman-pengalaman yang begitu menakjubkan. Kemanakah mereka akan pergi? Lautan mana yang akan mereka sebrangi? Lembah mana yang akan mereka turuni? Gunung mana yang akan mereka daki?? Merapi-kah dengan batunya yang tajam? Atau Singgalang dengan keindahan Telaga Dewi nya? Atau Talang-kah dengan kemisteriusannya? Atau Mount Everest kah?? (*my great mission:p)

Sejujurnya aku bangga pada mereka. Bagiku mereka ibarat pahlawan. Yang mampu menancapkan bendera di puncak tertinggi dimana tidak ada lagi puncak yang lebih tinggi dari itu.

Aku kagum dan kagum melihat keperkasaan mereka. Luka-luka yang menusuk tak sedikitpun menghentikan keteguhan mereka. Dana siap mereka kucurkan, walaupun mungkin untuk makan besok pagi tak secuilpun mereka pikirkan. Tatapan sinis mata manusia mereka tahan dengan segenap jiwa. Aroma yang menusuk mereka acuhkan, demi satu misi, satu tujuan. Dengan motto, “Gunung yang tinggi pun kan kudaki, Laut yang luas kan kuseberangi, apa pun akan ku korbankan, uang, harga diri, demi tujuan masa depan yang gemilang.” (*emang sedikit lebay*^^,)

***

Aku masih terpaku di tempat dudukku menatap salah satu diantara mereka, terharu. Ada gejolak dalam hati yang tak bisa kutebak. Kagumkah atau ibakah?? Suatu perasaan sendu menyeruak karena aku tak bisa ikut bersama mereka. Tapi, tak apalah. Aku bahagia karena sebentar lagi mungkin aku akan mendapatkan jawabannya.

Pelan-pelan… dia, yang kelihatan paling kekar dari semua, berjalan kearahku. Hmm..mungkin ingin memperoleh sarana transportasi ke tempat tujuan mereka. Sepertinya mereka memang belum punya kendaraan sendiri. Dia _yang paling perkasa tadi_ mendekat…. dan semakin mendekat kearahku. Dengan penuh pertimbangan dia menyeberang. Aku jadi deg-deg an. Hatiku mengerenyut. Perutku jungkir balik. Beberapa langkah lagi dia akan mencapaiku. Aku akan melihat sang pengembara itu dari dekat! Pejantan tangguh yang begitu misterius bagiku dan tak tersentuh. Ku berusaha menghentikan kegugupan. Dengan jantung yang berdebar-debar di dada, aku berusaha memberikan senyuman termanisku.

Tiba-tiba…

Dia membelok dan menurunkan barang bawaanya. Semuanya dia turunkan tanpa kecuali. Peluh telah menjajah dahinya. Kelihatannya dia memang lelah sekali. Akhirnya satu persatu barang bawaan ditaruhnya di lantai.

Hey! Ada apa gerangan?

Apa yang terjadi??

Kenapa dia menyerah dihadapanku?

Dimana keteguhannya, keperkasaanya, semangatnya, yang tadi tersirat diwajahnya?

Apa yang membuatnya lemah sampai-sampai terduduk di lantai dan menyandar kedinding?

Mata ku lekat menatapnya tak berkedip.

Putus asa kah dia?

Akhirnya dengan lemas dia pun mengeluarkan isi tas punggung itu. Oh, No!! Apakah yang akan dia lakukan?? Tak cukup atau berlebihkah bekal yang ia butuhkan??

Atau… mungkin ada sesuatu yang dia cari. Atau ada yang ketinggalan.

Menit demi menit berlalu, semua barangnya tercurah ke lantai. Sweater, celana, baju, bahkan selimut pun ikut teronggok di lantai. Tapi..barang yang ia cari seolah tak ia temukan. Karena tak ada lagi yang tersisa di dalam tas nya. Dan, kulihat wajahnya semakin sedih dan letih ketika ada yang membantu mengangkat pakaiannya yang berserak itu. Pelan-pelan…. Ia rogoh sakunya. Aku semakin heran. Apa yang hilang??? Kenapa wajahnya begitu harap dan cemas???

Aku berusaha mendekat, mencari tahu.

Dan aku pun ternganga.

Astaghfirullah…

Allahu Akbar!!!

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Mulutku tak terkatup melihat angka-angka 80 kg bersemayam di wajah timbangan. Sanggupkah ia membayar?? Beberapa lembar ribuan untuk tumpukan kain yang sudah agak asing baunya.

Lama, baru ku tersadar. Kucoba melihat palang yang tertancap di pinggir jalan. Tepat disampingku. Mulutku berusaha mengeja:

TERIMA KAIN KILOAN

VAMELANIA LAUNDRY

(^_^)

(Thanks to para pejantan tangguh yang menjelaskan padaku makna lain dari tas ransel....*ya ‘kan, kak Bend? Ladies..agaknya kita memang HARUS mengajari MEREKA untuk jadi PEJANTAN TANGGUH!^^*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar